Ramadan di Maumere: Pelajaran Toleransi, Demokrasi, dan Kehidupan
Oleh: Harun Al Rasyid, M.Pd
Sore di Maumere selalu memiliki aroma yang berbeda ketika bulan Ramadan tiba. Matahari merunduk rendah di ufuk barat, sementara langit di atas kampung Beru memerah hangat, seakan menandai waktu berbuka. Jalanan dipenuhi oleh suara riuh penjual takjil, bunyi sepeda motor, serta tawa anak-anak yang berlarian sambil membawa kantong plastik berisi kolak atau gorengan. Pasar takjil bukan sekadar tempat membeli makanan; ia menjadi ruang publik yang mengajarkan nilai-nilai sosial, toleransi, dan demokrasi setiap hari.
Mayoritas penduduk kampung Beru beragama Islam, tetapi menarik bahwa banyak non-Muslim turut hadir membeli takjil. Seorang pria Kristen tampak menawar kue cucur dari seorang ibu berjilbab. Senyum mereka beradu, suara mereka saling menyapa, dan interaksi sederhana ini menunjukkan bahwa demokrasi dan toleransi bukan sekadar teori atau slogan, melainkan praktik hidup yang lahir dari kesadaran moral dan empati. Nurcholish Madjid menegaskan bahwa toleransi muncul bukan dari formalitas hukum, tetapi dari interaksi sosial nyata ketika manusia menghargai perbedaan dengan hormat. Kampung Beru menjadi cerminan prinsip tersebut, terlihat dalam tawa, tawar-menawar, dan kebersamaan para pembeli dan penjual.
Puasa Ramadan, selain disiplin fisik menahan lapar dan dahaga, mengajarkan kesadaran kolektif. Ali Syari’ati menekankan bahwa ibadah sejati membangun kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap sesama manusia. Nilai ini muncul ketika seorang penjual kecil menawarkan kolak dengan harga lebih murah kepada keluarga kurang mampu yang datang. Kesadaran moral ini lahir dari nilai puasa, tanpa paksaan atau pengumuman resmi. Anak-anak belajar menunggu giliran, menghargai antrean, dan memahami bahwa kepentingan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi—sebuah pelajaran demokrasi mikro yang sederhana namun mendasar.
Universitas Muhammadiyah Maumere menawarkan dimensi lain dari demokrasi. Mahasiswa dan dosen dari berbagai agama duduk berdampingan, berdiskusi, serta bertukar gagasan tanpa rasa takut. Topik diskusi bisa beralih dari ekonomi syariah, etika lingkungan, hingga filsafat politik, sementara semua suara dihargai. Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa demokrasi yang sehat lahir ketika masyarakat menghormati perbedaan dan menegakkan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip tersebut diwujudkan di sini: keberagaman bukan hambatan, tetapi memperkaya proses belajar dan menumbuhkan rasa saling menghormati.
Hubungan puasa dan demokrasi juga terlihat dari dimensi moral dan filosofis. Plato dalam Republik menekankan bahwa pendidikan karakter dan pengendalian diri menjadi fondasi warga negara bijak. Puasa melatih pengendalian diri, kesabaran, dan empati, sementara demokrasi memerlukan warga yang sadar, bijak, serta mampu menempatkan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai ini tercermin di kampung Beru saat penjual menahan emosi menghadapi antrean panjang, dan anak-anak menunggu giliran dengan sabar. Di kelas kampus, kemampuan mahasiswa mendengarkan dan menghargai perbedaan pandangan menjadi praktik demokrasi yang nyata.
Ramadan di Maumere juga menegaskan pertemuan antara ekonomi dan toleransi. Banyak penjual kecil mengandalkan bulan ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi bisa berjalan beriringan dengan praktik toleransi. Ali Syari’ati menegaskan bahwa spiritualitas tanpa kesadaran sosial adalah hampa. Nilai puasa menuntun masyarakat menyeimbangkan kepentingan pribadi dan kolektif. Demokrasi muncul dari tindakan sehari-hari: berbagi ruang, menghormati hak orang lain, dan menjaga harmoni sosial.
Beberapa titik lain di Maumere menunjukkan pola yang sama. Lapak-lapak kecil di lintas di sepanjang jalan Perumnas, Kilo Dua, Bebeng, Wuring, Nangahure, dan Geliting ramai dikunjungi warga lintas agama. Anak-anak Muslim dan non-Muslim bermain bersama sambil menunggu orang tua berbelanja. Warga secara spontan mengadakan buka puasa bersama, mengundang tetangga non-Muslim ikut serta. Praktik ini lahir dari kesadaran moral, empati, dan budaya toleransi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sikka-Maumere.
Fenomena ini menyerupai laboratorium demokrasi. Setiap tawar-menawar, senyum, dan transaksi di pasar takjil adalah praktik nyata demokrasi. Di kelas kampus, setiap diskusi yang menghargai perbedaan pendapat adalah demokrasi intelektual. Ketika azan Maghrib berkumandang, suasana menjadi hening penuh rasa syukur. Anak-anak membawa pulang jajanan, ibu-ibu membersihkan lapak, sementara pembeli non-Muslim kembali ke rumah dengan senyum hangat. Semua ini menunjukkan bahwa toleransi, demokrasi, dan kesadaran moral tidak harus hadir dalam bentuk formal atau teori tinggi, ia hidup dalam interaksi sehari-hari.
Pemikiran Frans Magnis Suseno menjadi pengingat tambahan. Ia menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar kesabaran pasif, tetapi sikap aktif menghargai keberadaan orang lain dan berbeda pendapat dengan penuh hormat. Demokrasi, menurutnya, memerlukan warga yang mampu mendengar dan mempertimbangkan suara orang lain, bukan sekadar mengekspresikan kepentingan diri sendiri. Nilai-nilai ini terlihat jelas di Sikka: toleransi dan demokrasi terwujud dalam interaksi sederhana sehari-hari, dari pasar hingga ruang kelas.
Ramadan mengajarkan pelajaran yang lebih besar: empati terhadap sesama dan kesadaran kolektif tentang keadilan sosial. Interaksi sehari-hari, pembeli non-Muslim di pasar, mahasiswa yang berdiskusi tanpa sekat agama, warga yang berbagi makanan saat berbuka, merupakan manifestasi nyata demokrasi dan toleransi. Puasa melatih pengendalian diri, kesabaran, dan kesadaran moral; demokrasi memerlukan kualitas itu untuk berjalan dengan baik. Praktik toleransi, empati, dan kesadaran kolektif di Sikka membuktikan bahwa nilai-nilai ini bukan teori, tetapi bagian hidup sehari-hari.
Ketika malam semakin larut dan kota Maumere mulai sepi, sebuah perasaan hangat tersisa. Ramadhan mengajarkan bahwa hidup bersama dalam keberagaman bukan sulit. Berbagi senyum, menunggu giliran, menghormati pendapat lain, dan menjaga harmoni menjadi praktik moral yang nyata. Puasa menjadi laboratorium moral, demokrasi menjadi praktik empati dan tanggung jawab sosial, sementara toleransi menjadi cara manusia hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat.
Marilah kita menjadikan pengalaman Ramadan sebagai ajakan moral: menghargai perbedaan, menempatkan kepentingan kolektif di atas pribadi, dan membangun komunitas yang inklusif serta harmonis. Setiap individu dapat berkontribusi dalam praktik demokrasi dan toleransi sehari-hari, serta menjadikan nilai-nilai puasa sebagai fondasi etika dalam hidup bersama. Kehidupan yang lebih adil, damai, dan manusiawi dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten, setiap hari.
*) Penulis adalah Anggota KPU Kabupaten Sikka Periode 2024-2029.